Museum Perkebunan Indonesia 2 di Medan menyimpan rahasia kelam di balik kejayaan industri perkebunan Sumatera Timur. Salah satunya adalah penggunaan sistem daktiloskopi atau sidik jari yang menjadi alat kontrol super ketat bagi para buruh masa itu.
Berdasarkan pantauan di lokasi, papan informasi museum menjelaskan bahwa sistem ini dikelola oleh organisasi AVROS (Algemeene Vereeniging van Rubber Planters ter Oostkust van Sumatera), sebuah asosiasi pengusaha perkebunan karet milik Belanda, Belgia, Inggris, dan Amerika.
Pemandu museum, Sindi, menjelaskan bahwa sistem daktiloskopi ini bukan hanya soal nama dan alamat. Dokumen ini merupakan rekam jejak digital versi manual bagi para pekerja lintas etnis.
“Daktiloskopi ini digunakan buat para pekerja Tionghoa, Jawa, dan Tamil sebagai berkas para pekerja,” ujar Sindi saat memberikan penjelasan kepada pengunjung.
Lebih lanjut, Sindi mengungkapkan bahwa isi dari berkas tersebut sangat mendalam, mencakup segala sisi kehidupan buruh di perkebunan.
“Dan berkas ini digunakan untuk mencatat utang piutang, tindakan kejahatan yang pernah dilakukan pekerja sebagai rekam jejak mereka, dan sebagai bukti atau catatan bila ingin dipindahkan ke sektor perkebunan lain atau perusahaan lain,” tambahnya.
Informasi di museum menyebutkan bahwa Biro Daktiloskopi AVROS didirikan pada tahun 1925. Awalnya, biro ini bertugas mengidentifikasi pekerja yang kabur sebelum kontraknya habis. Namun, fungsinya kemudian meluas menjadi alat pengamanan politik.
Papan informasi museum mencatat beberapa fungsi krusial sistem ini:
• Mencegah Pemberontakan: Sistem ini digunakan untuk memastikan pekerja yang bersifat revolusioner tidak dikirim kembali ke daerah-daerah karena berpotensi menimbulkan masalah.
• Tanda Tangan Legal: Karena mayoritas pekerja saat itu buta huruf, sidik jari menjadi tanda tangan sah dalam kontrak kerja.
• Kontrol Kontrak: Mencegah buruh mendaftar ulang di perkebunan lain dengan identitas palsu.
• Pelacakan Keamanan: Memudahkan polisi kolonial melacak pekerja yang dianggap sebagai “unsur tidak diinginkan” seperti propagandis politik.
AVROS sendiri terbentuk pada Juni 1910. Pada tahun 1918, mereka membangun gedung kantor pusat di Medan bergaya Art Deco yang dirancang arsitek CH. Mulder.
Kejayaan AVROS berakhir setelah terjadi nasionalisasi pada tahun 1958. Organisasi ini kemudian dibubarkan dan bertransformasi menjadi GAPPERSU, hingga akhirnya menjadi BKS PDS pada 12 April 1967 yang masih eksis hingga saat ini.
Kini, berkas-berkas sidik jari tersebut menjadi saksi bisu di Museum Perkebunan Indonesia 2 tentang betapa ketatnya pengawasan terhadap keringat para buruh yang membangun kekayaan perkebunan di tanah Sumatera.
Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta Maganghub Kemnaker di infocom
