Salat ghaib merupakan salah satu bentuk kepedulian sesama muslim terhadap saudara seiman yang meninggal dunia di tempat yang jauh. Ibadah ini menjadi solusi ketika seseorang ingin menyolatkan jenazah keluarga atau kerabat, namun terkendala jarak atau kondisi jenazah yang tidak mungkin dihadirkan, seperti pada kasus korban bencana alam.
Dikutip dari Buku Panduan Sholat Lengkap (Wajib & Sunah) karya Saiful Hadi El Sutha, pada dasarnya sholat ghaib sama dengan sholat jenazah. Perbedaan utamanya hanya terletak pada keberadaan jenazah. Jika sholat jenazah dilakukan di hadapan mayit, sholat ghaib dilakukan tanpa kehadiran jasad di lokasi sholat.
Bagi infoers yang hendak melaksanakannya, berikut adalah panduan lengkap mengenai hukum, niat sholat ghaib, serta tata cara pelaksanaannya.
Pelaksanaan sholat ghaib memiliki dasar hukum yang kuat dalam Islam, meskipun terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Mengutip buku Seri Fiqih Kehidupan 3: Shalat karya Ahmad Sarwat, Mazhab Syafi’i dan Hanbali membolehkan pelaksanaan sholat ghaib. Menurut pandangan ini, sholat jenazah tanpa kehadiran mayit hukumnya sah, bahkan jika jenazah berada tidak terlalu jauh (kurang dari jarak qashar) atau posisi jenazah tidak berada di arah kiblat.
Landasan sunah sholat ghaib ini merujuk pada hadits Rasulullah SAW ketika menyolatkan Raja Najasyi (Raja Habasyah). Sebagaimana diriwayatkan:
“Sesungguhnya Nabi saw, memberitahu atas kematian raja Najasyi kepada para sahabat ketika sedang di kota Madinah, kemudian Beliau menyolatinya dengan diikuti para sahabat.” (Matn Al-Bukhari, I: 229; Sunan Abu Daud, no. 3204-3205).
Hadits tersebut menjadi dalil bahwa sholat ghaib merupakan bagian dari sunah Rasulullah SAW.
Niat menjadi rukun pertama yang membedakan sholat ghaib dengan sholat lainnya. Lafal niat dibedakan berdasarkan jenis kelamin jenazah dan jumlahnya.
1. Niat Sholat Ghaib untuk Jenazah Laki-Laki
أُصَلِّي عَلَى مَيِّتِ ( فُلَانٍ) الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا / مَأْمُومًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii ‘ala mayyiti (fulaan) al-ghaa’ibi arba’a takbiiraatin fardhal kifaayati imaaman/makmuuman lillaahi Ta’alaa.
Artinya: “Saya berniat mengerjakan sholat untuk mayit (si Fulan, sebut namanya) yang ghaib (tidak ada di tempat ini) dengan empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai imam/makmum, karena Allah Ta’ala.”
2. Niat Sholat Ghaib untuk Jenazah Perempuan
أُصَلِّي عَلَى مَيِّتَةِ ( فُلَانَةِ ) الْغَائِبَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii ‘ala mayyitati (fulaanah) al-ghaa’ibah arba’a takbiiriatin fardhal kifaayati imaaman/makmuuman lillaahi Ta’aalaa.
Artinya: “Saya berniat mengerjakan sholat untuk mayit (si Fulanah, sebut namanya) yang ghaib (tidak ada di tempat ini) dengan empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai imam/makmum, karena Allah Ta’ala.”
3. Niat Sholat Ghaib untuk Korban Bencana (Jenazah Banyak)
Jika jenazah berjumlah banyak, seperti pada kasus korban bencana alam di suatu daerah, niatnya adalah:
أُصَلِّي عَلَى جَمِيعِ مَوْتَى قَرْيَةِ كَذَا الْغَائِبِينَ الْمُسْلِمِينَ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إِمَامَا/مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî ‘alâ jamî’i mautâ qaryati kadzâl ghaibînal muslimîna arba’a takbîrâtin fardhal kifayâti imâman/ma’mûman lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat sholat seluruh umat muslim yang jadi korban di desa ‘…’ (sebutkan nama desanya) yang berada di tempat lain empat takbir dengan hukum fardhu kifayah sebagai imam/makmum karena Allah ta’aalaa.”
Pelaksanaan sholat ghaib sama persis dengan urutan sholat jenazah pada umumnya, yakni dengan empat kali takbir tanpa ruku dan sujud. Berikut urutannya:
Demikianlah panduan lengkap mengenai niat dan tata cara sholat ghaib. Dengan melaksanakan ibadah ini, kita dapat mengirimkan doa terbaik bagi saudara muslim yang telah mendahului kita, meskipun terpisah oleh jarak.
