Ketua Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Ahmad Muzani memaparkan tantangan era digital bagi generasi muda. Ia pun menyebut pancasila sebagai fondasi kebangsaan.
“Pancasila bersama UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah “PUSAKA” warisan pendiri bangsa yang wajib dijaga sebagai fondasi wawasan kebangsaan. Pembangunan nasional harus selalu berakar pada identitas dan persatuan agar tidak goyah diterjang krisis identitas global,” ungkap Muzani saat Pidato Kebangsaan di UINSU, dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa (27/1/2026).
Lebih lanjut, Muzani juga turut menyoroti fenomena bonus demografi yang sedang di alami Indonesia, di mana penduduk usia produktif menjadi mayoritas. Ia mendorong mahasiswa UINSU untuk meningkatkan literasi digital, finansial, dan kebangsaan agar mampu bersaing di tingkat global dengan tetap memegang teguh akar budaya bangsa.
“Jika kualitas sumber daya manusia tidak diperkuat melalui pendidikan dan inovasi, bonus ini berisiko menjadi “bencana demografi” seperti meningkatnya pengangguran dan ketimpangan ekonomi,” ujarnya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Selain isu geopolitik dan ideologi, Muzani secara khusus menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi bencana alam hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor yang mendominasi sepanjang tahun 2025. Muzani mengajak institusi pendidikan seperti UINSU untuk menjadi pusat kajian mitigasi risiko dan pelopor gaya hidup berkelanjutan.
“Hal ini penting agar lulusan universitas tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga peka terhadap isu lingkungan dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi sebagai bagian dari tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Sementara itu, ia juga menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya akan terwujud melalui sinergi antara ilmu pengetahuan, iman, dan pengabdian.
Terkait hal ini, Rektor UIN Sumatera Utara Nurhayati menyampaikan apresiasi kesediaan Ketua MPR RI untuk berbagi wawasan kebangsaan di kampus hijau tersebut.
“Peran perguruan tinggi Islam sangat strategis dalam menyemai nilai moderasi, toleransi, dan kemanusiaan di dalam bingkai Pancasila demi mendidik calon pemimpin bangsa. Saya berharap agar diskusi ini memberikan bekal bagi mahasiswa untuk menjadi pribadi yang berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” pungkas Nurhayati.
