Tradisi Mangalomang menjadi momen penting bagi Suku Mandailing untuk mempererat kebersamaan melalui kegiatan memasak lemang secara gotong royong. Lebih dari sekadar ritual kuliner, tradisi ini sarat nilai kebersamaan, silaturahmi, dan pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.
Budayawan, Sutan Nasution, mengatakan mangalomang biasanya dilakukan menjelang hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, maupun pada acara adat dan hajatan keluarga. Dijelaskannya lemang dimasak dengan ruas bambu dengan santan kepala yang disiapkan secara bersama-sama.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Mangalomang bukan sekadar memasak lemang, tetapi menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan menjaga nilai gotong royong dalam masyarakat Mandailing. Tradisi ini mengajarkan kebersamaan dan rasa saling peduli,” ujarnya.
Melalui tradisi ini, kata dia, akan terlihat suasana kebersamaan karena keluarga akan warga berkumpul di halaman rumah atau lapangan.
“Biasanya kaum laki-laki bertugas membakar lemang, sementara perempuan menyiapkan ketan dan santan. Anak-anak pun ikut meramaikan suasana, menjadikan mangalomang sebagai momen lintas generasi yang sarat nilai budaya,” tuturnya.
Selain mempererat silaturahmi, mangalomang juga menjadi sarana pewarisan nilai adat kepada generasi muda. Melalui tradisi ini, masyarakat Mandailing menanamkan pentingnya kerja sama, kesabaran, dan rasa syukur atas hasil alam yang melimpah.
Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta maganghub Kemenaker di infocom
